
PRAMUKA SMP NEGERI 113 JAKARTA JL. KAMPUNG BANDAN, ANCOL, JAKARTA UTARA, 14430 TELEPON (021) 6909030 e-mail:rover113@yahoo.com
17 Desember 2008
PROFIL KA KWARNAS 2008-2014

13 Desember 2008
SUKSESKAN MUNAS KWARNAS 2008

Dibawah ini daftar pencalonan Ketua Kwartir Nasional periode 2008 – 2013 yang diusulkan oleh Kwarda se Indonesia :
Nama Calon Ketua Kwartir Nasional periode 2008 – 2013
1. Aburizal Bakrie,Ir
2. Adhyaksa Dault, DR, SH,M .Si
3. Agustadi P ,Jendral
4. Ani Susilo Bambang Yudhoyono
5. Azrul Azwar, Prof DR, Dr, MPH
6. Bambag Sudibyo,Prof; DR
7. Fasli Jalal,DR
8. Mardiyanto, Mayjen TNI (Purn)
9. Masduki HM, M.Si
10. Muh. Nuh, Prof, DR
11. Parni Hadi
12. Sri Sultan HB X
13. Surjadi Soedirdja Letjen TNI (Purn)
Sumber: Kwarnas.
11 Desember 2008
PERSAMI PAB 2008
"PERSAMI PAB 2008". Yang seharusnya diadakan 1-2 Nopember 2008. Karena LDKS Osis SMP Negeri 113 diadakan tanggal 1-2 Nopember 2008. Akhirnya kitapun mengalah.
Persiapan PERSAMI PAB 2008
Upacara pembukaan PERSAMI PAB 2008
PERSAMI PAB 2008 ITU ADALAH:
MENGHIBUR TEMAN DAN KAKAK
KERJASAMA
SANTAIIIIIIIII ......
BERTAQWAKEPEMIMPINAN
23 Oktober 2008
ADVENTURE LAND: BERTUALANG SAMBIL BELAJAR TEKNIK SURVIVAL

.jpg)


19 Oktober 2008
UPACARA PEMBUKAAN JAMBORE ASEAN 2008


Kamabinas RI, Ka SBY didampingi oleh Bunda Ani Yudhoyono. Tampak hadir Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Ka Aburizal Bakrie (Mabinas), Ketua Gerakan Pramuka Kak Prof.Dr. dr. H. Azwar Anas, MPH, ketua Panitia Asean Scout Jamboree, Kak dr. Amoroso Katamsi, Para Pimpinan Kwarnas, Para Andalan Nasional, Pimpinan Kwarda dan Kwarcab peserta dan sejumlah duta besar negara sahabat.
Perkemahan Pramuka ASEAN akan berlangsung 18-26 Oktober 2008 di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta. Temanya adalah membangun persaudaraan dan pemahaman budaya. Peserta adalah pramuka putera dan puteri usia sekitar 13-16 tahun. Kontingen dalam negeri (Indonesia) berasal dari 33 provinsi. Sementara kontingen luar negeri berasal dari 9 negara anggota ASEAN, kecuali Myanmar.
Anggota Pramuka SMPN 113 Jakarta, latar panggung kesenian.
Anggota Pramuka SMPN 113 Jakarta foto bareng Pramuka Thailand
Foto bareng Pramuka dari Brunei Darussalam
14 Oktober 2008
"SWAPPING BADGE"
Kedua, para pandu yang ikut suatu jambore tentunya ingin mempunyai kenang-kenangan dari jambore itu. Salah satunya adalah kenang-kenangan berupa koleksi badge dan pin dari kota atau negara lain. Saat pulang ke rumah, mereka dapat bercerita dengan keluarganya, bahwa ketika jambore mereka telah tukar-menukar badge dengan pandu dari negara lain, dan inilah badge atau pin yang mereka peroleh. Begitu berkembangnya kegiatan tukar-menukar badge itu, sampai banyak panitia penyelenggara jambore - terutama jambore internasional - yang menyediakan tempat khusus untuk kegiatan "swapping badge" itu. Sewaktu Jambore Kepanduan Sedunia 2007 yang diselenggarakan di Chelmsford, Essex, Inggris, arena "swapping badge" digelar di depan tenda pameran koleksi memorabilia (benda kenangan) kepanduan yang beragam jenisnya, mulai dari prangko, kartu pos, sampul (amplop) surat, badge, pin, baju seragam, topi, setangan leher, dan banyak lagi. Panitia menyediakan meja dan bangku-bangku untuk kegiatan tersebut. Siapa saja boleh ikut dalam kegiatan "swapping badge" itu.
Menjelang digelarnya Jambore Pramuka/Pandu ASEAN yang dalam Bahasa Inggris disebut "ASEAN Scout Jamboree" di Bumi Perkemahan Pramuka Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, dari 18 sampai 26 Oktober 2008, timbul pula gagasan untuk menyelenggarakan kegiatan semacam itu. Kak Aji Rachmat, yang bertugas sebagai salah satu perangkat perkemahan jambore itu, dalam mailing list Pramuka mengatakan, kegiatan seperti itu tampaknya bakal mendapat sambutan dari para peserta. Dia juga mengusulkan agar tempat tukar-menukar badge dilakukan di kantor Kecamatan Putra (Pendopo Perkemahan Putri III) dan Kantor Kecamatan Putri (Pendopo Perkemahan Putri I) di Bumi Perkemahan Cibubur tersebut.
AYO KE JAMBOREE ASEAN
Ada kejadian yang kurang mengenakkan sewaktu berlangsungnya Jambore Kepanduan Sedunia di Chelmsford, Essex, Inggris, akhir Juli sampai awal Agustus 2007. Seorang pembina pendamping menegur anggota kontingen dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, karena dianggapnya tak membawa dan membagi bendera Merah-Putih kepadanya dan regunya. Padahal, hal itu tentunya sudah masuk dalam bagian perencanaan regu masing-masing, dan sebaiknya memang dibawa oleh tiap-tiap regu, karena akan dipasang di depan tenda masing-masing regu.Lalu apa lagi yang harus dibawa ke jambore kali ini? Karena diperkirakan hujan akan turun saat berlansungnya ASEAN Scout Jamboree itu, diharapkan masing-masing orang, baik peserta, pembina pendamping, atau pun panitia, tidak lupa membawa jas hujan. Jangan lupa pula membawa dan mengenakan sepatu yang dapat digunakan di permukaan tanah yang basah dan becek. Sandal dan sepatu yang membuat pemakainya tak mudah tergelincir, juga sangat dianjurkan.Di luar itu, walaupun panitia sudah menyiapkan sarana dan petugas kesehatan termasuk rumah sakit lapangan, tiap peserta diharapkan tak lupa membawa obat-obat pribadinya. Termasuk beberapa obat yang merupakan "kelengkapan dasar", seperti obat untuk mengatasi influenza, diare, dan demam.
Jadi, ayo bersiap ke jambore dan jangan lupa membawa segala hal yang dibutuhkan.
Adalah Presiden RI juga yang menggagas perlu diadakannya kembali jambore kepanduan di lingkungan negara-negara ASEAN, untuk memperkuat solidaritas antar sesama warga, khususnya pramuka dan pandu, di negara-negara ASEAN. Bahkan motto "One Spirit, One Promise, One South-East Asian Land" juga digagas oleh Presiden RI, yang terinspirasi dari motto peringatan 100 tahun gerakan kepanduan sedunia, "One World, One Promise". Sementara temannya, "Developing Brotherhood and Cultural Understanding."
Sampai saat ini, 9 negara ASEAN - termasuk tuan rumah Indonesia - sudah dipastikan akan mengirim kontingennya. Satu-satunya yang menolak ikut serta adalah Myanmar. Dari 9 negara yang akan ikut itu, masih ada dua negara yang belum ada organisasi kepanduannya, yaitu Laos dan Vietnam. Khusus untuk Vietnam, sebenarnya telah ada beberapa organisasi kepanduan, namun masih merupakan bentukan lokal karena belum didukung dan diakui oleh pemerintahnya. Walaupun demikian, baik Vietnam maupun Laos menyatakan akan mengirim kontingen yang terdiri dari beberapa remaja di negaranya yang seusia dengan para peserta jambore kali ini. Kontingen Indonesia akan terdiri dari perwakilan dari 33 kwartir daerah (setingkat provinsi) yang ada di Indonesia. Masing-masing kwartir daerah diberi kesempatan untuk mengirim 40 peserta putera dan puterinya. Salah satunya peserta dari SMP N 113 Jakarta, yaitu M. Hargi Saputra (penggalang putra). Kemungkinan, di luar itu masih akan hadir pula perwakilan gugusdepan-gugusdepan yang berpangkalan di Kedutaan Besar RI di sejumlah negara ASEAN. Paling tidak, ada empat gugusdepan yang berpangkalan di KBRI yang cukup aktif berkegiatan, yaitu di Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Acara internasional itu diharapkan dapat berjalan meriah dan sukses. Selain para peserta dan pendamping serta panitia jambore, kemeriahannya juga bisa semakin dirasakan dengan kehadiran para pengunjung. Lho, memangnya pengunjung boleh datang?
Sesuai kesepakatan panitia, pengunjung memang diperkenankan datang ke arena jambore. Mengingat 18 Oktober adalah hari pertama jambore dan 19 Oktober adalah hari pembukaan, maka pengunjung dianjurkan datang sesudah tanggal-tanggal itu. Berarti dari tanggal 20 sampai 25 Oktober, mengingat 26 Oktober adalah hari penutupan. Lalu jam berapa? Untuk pengunjung yang datang berombongan, misalnya dari gugusdepan atau dari sekolah tertentu, difasilitasi kehadirannya antara pukul 10.00 sampai 12.00 WIB. Sedangkan untuk pengunjung perorangan atau keluarga, dapat datang pada pukul 17.00 sampai 18.00 WIB. Bagi pengunjung yang datang berombongan, akan lebih baik bila memberitahu dulu dengan surat yang dialamatkan ke Panitia Penyelenggara "ASEAN Scout Jamboree" di Jalan Medan Merdeka Timur No.6 Jakarta 10110 (sebelum tanggal 8 Oktober 2008), atau dialamatkan ke Panitia Penyelenggara "ASEAN Scout Jamboree" di Bumi Perkemahan Pramuka Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur.
04 Oktober 2008
MOHON INFO LOMBA PENGGALANG TAHUN 2008-2009
26 September 2008
Kontingen Jambore Asean 2008 dari Kwarda DKI Jakarta
23 September 2008
MINAL AIDZIN WAL FAIZIN
GUGUS DEPAN PRAMUKA JAKARTA UTARA
05.311 – 05.312
SMP NEGERI 113 JAKARTA
MENGUCAPKAN
MINAL AIDZIN WAL FAIZIN
MOHON MAAF LAHIR BATIN
SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITERIMA OLEH ALLAH SWT. AMIN.
24 Agustus 2008
PENGUKUHAN ANGGOTA BARU !
18 Agustus 2008
JAMBORE ASEAN 2008

Ketentuan mengikuti kegiatan tersebut adalah sbb :
1. Anggota Pramuka aktif dari gudep yang berada diwilayah kwarda yang bersangkutan
2. Berusia antara 13 - 16 tahun
3. Berbadan sehat, dinyatakan dengan surat keterangan dokter
4. Mendapat mandat tertulis dari ka.kwardanya
5. Mendapat ijin tertulis dari orang tua / wali dan Kepala Sekolahnya
6. Dapat berbahasa Inggris dengan baik
7. Tiap Kwarda diwakili oleh 1 ( satu ) regu putra dan 1 ( satu ) regu puteri, masing - masing teerdiri atas 9 orang anggota ditambah 1 orang Pembina Pramuka. Diutamakan anggota regu yang memenangkan LT IV tahun 2007, Regu pemenang LT V tahun 2007 baik putera maupun puteri mendapat prioritas disamping regu tersebut diatas.
8. Tiap peserta dikenakan biaya sebesar Rp. 300.000
9. Peserta diharapkan sudah tiba di Cibubur pada tanggal 17 Oktober 2008 dan meninggalkan arena jambore pada tanggal 27 Oktober 2008 .
10. Untuk Pramuka Penegak / Pandega dan anggota Dewasa Gerakan Pramuka bisa berperan serta sebagai anggota IST ( International Service Team ) dengan membayar biaya kesertaan sejumlah sama dengan peserta ( Rp. 300.000)
Saduran Juklak Jambore Pramuka Asean 2008 ( ASEAN SCOUT JAMBOREE )
18 - 26 OKTOBER 2008
MOTTO
" SATU HATI, SATU JANJI, SATU BUMI ASIA TENGGARA "
TEMA
" DEVELOPING BROTHERHOOD AND CULTURAL UNDERSTANDING "
( MEMBANGUN PERSAUDARAAN DAN PEMAHAMAN BUDAYA)
SUB TEMA
" PERSAUDARAAN MENUJU PERDAMAIAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ASIA TENGGARA "
TEMPAT
BUMI PERKEMAHAN DAN GRAHA WISATA PRAMUKA CIBUBUR
( GERAKAN PRAMUKA CAMPING GROUND CIBUBUR ) JAKARTA, INDONESIA
WAKTU
Kedatangan Peserta : 17 Oktober 20080
Pembukaan : 18 Oktober 2008 Sore
Kegiatan : 19 - 25 Oktober 2008
Penutupan : 26 Oktober 2008
PESERTA
Putra - Putri Usia 13 - 16 tahun
TIM PELAYANAN INTERNASIONAL / INTERNATIONAL SERVICE TEAM ( IST )
Putra - Putri usia 18 tahun keatas
KONTINGEN
BRUNEI DARUSSALAM, FILIPINA, INDONESIA, KAMBOJA, LAOS, MALAYSIA, MYANMAR, SINGAPURA, THAILAND, VIETNAM.
Masing - masing negara peserta mengirimkan minimal 4 pasukan @ 36 peserta dan 4 pembina.
Masing-masing negara peserta mengirimkan maksimal 40 orang anggota dewasa yang berfungsi selaku Tim Pendukung Kontingen ( Contingent Support Team / CST )
KONTINGEN INDONESIA
Setiap Kwarda mendapat kuota sebanyak 2 regu terdiri dari 9 putra dan 9 putri
Diutamakan anggota regu pemenang LT IV tahun 2007, kuota tambahan diberikan kepada Kwarda pemenang LT V tahun 2007 sebanyak 1 regu.
Masing - masing regu didampingi 1 orang Pembina Pendamping.
PENDAFTARAN PESERTA
Waktu pendaftaran 28 Juli s.d 30 September 2008
Tahapan pendaftaran :
1. Registrasi jumlah peserta : 28 Juli s.d 8 Agustus 2008
2. Pendaftaran kebutuhan kontingen : 9 s.d 15 Agustus 2008
3. Penyampaian nama-nama peserta : 16 Agustus s.d 30 September 2008
JENIS KEGIATAN
¢ Ketrampilan Kepramukaan
" Pioneering
- Pembuatan Jembatan Darurat
- Pembuatan Menara Pandang
- Pembuatan Alat Kelengkapan Berkemah
" Komunikasi
" P3K
¢ Penjelajahan
" Tehnik Hidup di Alam Bebas
" Land Rover Classic
¢ Pemahaman Budaya
" Pertukaran Budaya
" Seni Dekorasi
" Festival Makanan Tradisional
" Seni Pertunjukkan
¢ Ilmu dan Teknologi
" Teknologi Tradisional
" Teknologi Tepat Guna
¢ Global Development Village
" Pameran dan Diskusi tentang Masalah Dunia
" ASEAN Green Village
¢ Sportacular ( berbagai bentuk olahraga tradisional )
¢ Tour Pendidikan ( Educational Tour ) seperti ke TMII, Museum dll
UPACARA - UPACARA ( CEREMONY )
1. Upacara Pembukaan direncanakan dilakukan pada tanggal 18 Oktober 2008 sore hari yang diisi berbagai pertunjukkan kebudayaan.
2. Upacara Penutupan direncanakan dilakukan pada tanggal 26 Oktober 2008 pukul 19.00 yang diisi dengan berbagai pertunjukkan kebudayaan.
FASILITAS YANG DIBERIKAN
1. Setiap Pasukan mendapat :
a. areal berkemah ( kapling ) seluas 40 x 25 m ( 1.000 m²)
b. 2 ( dua ) buah tiang bambu sepanjang 3 ( tiga ) meter untuk membuat gapura.
2. Setiap Pasukan mendapat pinjaman :
a. 4 ( empat ) buah tenda regu
b. 1 ( satu ) unit tenda makan dan dapur
c. 1 ( satu ) set meja makan berikut tempat duduk
d. 1 ( satu ) set peralatan masak
e. 2 ( dua ) set tempat penyimpanan peralatan masak dan natura
f. 1 ( satu ) pak plastik hitam tempat pembuangan sampah
3. Setiap Pasukan mendapat jatah :
a. makanan mentah ( natura ) untuk makan selama 9 ( sembilan ) hari
b. makanan matang selama 1 ( satu ) hari yaitu pada tanggal 17 Oktober 2008
4. Setiap Kontingen mendapat fasilitas antar jemput dari titik kedatangan ( Bandara atau Pelabuhan Laut ) , menuju lokasi tapak perkemahan.
5. Setiap anggota kontingen , baik peserta, IST maupun CST serta anggota Panitia mendapat :
a. tanda peserta
b. badge kegiatan
c. tanda ikut serta ( TISKA )
d. topi
e. kaos
f. kacu kegiatan ( scraf )
g. piagam penghargaan
h. kupon makan
6. Setiap IST, CST serta anggota Panitia mendapat jatah :
a. makanan matang sebanyak 3 ( tiga ) kali sehari
b. makanan ringan sebanyak 3 ( tiga ) kali sehari selama 11 hari
7. Seluruh anggota Dewasa, kecuali Pembina Pasukan , mendapat tempat berkemah khusus
FASILITAS PERKEMAHAN
Fasilitas perkemahan yang diberikan guna menunjang kegiatan ini adalah berupa :
1. Air bersih untuk minum
2. Sarana MCK
3. Sarana listrik
4. Tempat pembuangan sampah
5. Transportasi ke dan dari tempat kegiatan
6. Pengamanan
7. Pelayanan Kesehatan Terbatas
8. Tanda - tanda arah
9. Sarana perkantoran panitia
10. Panggung Kesenian di arena Utama dan di setiap Sub Camp.
Mau ikut ? Maka dari itu kamu harus menang LT IV dulu !
sumber : Kwatir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia
Diklat Brigade Penolong

30 Juni 2008
RANGER STIBELS IKUT RAIMUNA NASIONAL 2008

22 Juni 2008
PERESMIAN MOBIL PINTAR


ROVER enjoy

Di bis AC, ADEM BANGET
KABAR GEMBIRA LAGI
07 Juni 2008
STIBEL PENGEN TERKENAL WARNA APA ?
Bagaimana dengan sekolah kita, pengennya terkenal dengan warna apa. Agar sekolah kita terkenal dengan suatu warna yang khas "Stibels". Warna apa yang identik dengan sekolah kita, biar semua orang tau kita terkenal dengan sebuah warna.
Kamu dapat kirim pendapat kamu lewat "kom entar" atau bisa lewat SMS ke : 0813 8050 1178 dengan mengetik: nama/kelas/warna/alasan.
19 Mei 2008
SELAMAT DATANG DI RAIMUNA NASIONAL IX 2008

Senin, 19 Mei 2008
Jakarta. Perhelatan akbar Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega tingkat nasional akan segera digelar dipertengahan tahun 2008. Dari seluruh daerah di Indonesia mulai mempersiapkan diri menyongsong Raimuna Nasional IX 2008 yang akan dilaksanakan saat liburan panjang tahun ini tepatnya pada tanggal 27 Juni s.d. 7 Juli 2008 di Bumi Perkemahan dan Taman Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur. Ini adalah moment yang sangat berharga, selain diadakan 5 tahun sekali juga melibatkan peserta sebanyak lebih dari 12.000 orang, yang berasal dari seluruh penjuru negeri serta di tambah dari partisipan Pramuka Luar Negeri.
Penyelenggaraan Raimuna Nasional 2008 sendiri di dasarkan pada SK.MUNAS No.14/Munas/2003 tentang Penyelenggara Raimuna Nasional 2008 adalah DKI Jakarta. Kesiapan Kwarda DKI Jakarta untuk menjadi tuan rumah diperkuat dengan SK. Kwarnas No.140/2007 tanggal 26 Juli 2007 tentang penunjukan Kwarda DKI Jakarta sebagai Penyelenggara Raimuna Nasional 2008. Ini merupakan yang kelima kalinya Kwarda DKI Jakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Raimuna Nasional sejak tahun 1982.Raimuna Nasional adalah ajang pertemuan anggota Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega se-Indonesia yang bertujuan memupuk Persatuan dan Kesatuan, persahabatan, persaudaraan dan perdamaian melalui kegiatan yang bersifat edukatif, inovatif, produktif, kreatif dan rekreatif yang dilaksanakan 5 tahun sekali. Kata Raimuna itu sendiri diambil dari wilayah timur negeri ini, tepatnya daerah Yapen Waropen, Papua. Berasal dari bahasa Ambai, Kata yang terdiri dari “rai” dan “muna” ini memiliki arti, pertemuan ketua suku dalam satu forum yang menghasilkan satu tujuan suci untuk kepentingan bersama. Sungguh pertemuan yang sangat mulia.Raimuna Nasional IX tahun 2008 akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni – 7 Juli 2008, bertempat di Bumi Perkemahan dan Taman Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur. DKI Jakarta yang berkesempatan menjadi tuan rumah tentu tidak akan bermain-main. Segala persiapan yang berkenaan dengan kegiatan ini diproses secara matang, agar Raimuna Nasional kali ini dapat berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Bermacam-macam format kegiatan telah disusun secara menarik dan menantang. Ini adalah hal yang paling diminati oleh peserta nantinya. Tak heran jika Raimuna Nasional memiliki daya tarik tersendiri bagi anggota Pramuka khususnya penegak dan pandega yang selalu haus akan pengetahuan dan keterampilan hidup.Dengan mengangkat tema “ Membangun Kebersamaan dan Semangat Kebangsaan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia” dan semboyannya adalah “ Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami”. Raimuna Nasional IX tahun 2008, diharapkan akan menghadirkan generasi muda dengan semangat kebangsaan dan nasionalisme tinggi. Ini merupakan langkah nyata dari Gerakan Pramuka sebagai salah satu komponen perekat persatuan bangsa terhadap isu-isu disintegrasi. Namun, hal tersebut mustahil terwujud tanpa adanya dukungan dan kerja sama yang baik dari segenap elemen Gerakan Pramuka, Instansi pemerintah dan masyarakat. Akhirnya, kami mengucapkan selamat datang di Raimuna Nasional IX tahun 2008. Sukseskan Pertemuan besar ini untuk meningkatkan kemampuan dan menambah pengetahuan, ingat!, generasi muda merupakan penentu nasib bangsa. Sekali lagi kami ucapkan...Welcome To Jakarta, Welcome To Raimuna Nasional IX 2008.(DS)
Jakarta Tempo Doeloe

Senin, 19 Mei 2008
Penggalan SejarahPemerintahan Provinsi DKI Jakarta"Sejarah adalah guru dari penghidupan dan pembawa berita dari masa yang lampau"Cicero, Filsuf
Kota Jakarta pada awalnya hanyalah sebuah bandar kecil bernama Sunda Kalapa, terletak di muara Sungai Ciliwung pada sekitar 500 tahun silam. Pada Abad ke-14 wilayah ini masuk dalam bagian kekuasaan dari Kerajaan Pajajaran, yang berfungsi sebagai kota perdagangan, kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan Internasional yang cukup ramai dikunjungan para saudagar dari berbagai mancanegara. Bangsa Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa pada tahun 1522 berasal dari para pedagang Portugis dalam rangka mengembangkan perdagangannya di Asia Tenggara. Mereka lalu berusaha bekerja sama dengan Kerajaan Padjajaran yang dipimpin Sri Baduga Maharaja. Kala itu, Raja Padjajaran sedang menggalang kekuatan dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk bantuan kekuatan armada dari bangsa Portugis. Dukungan kekuatan itu, diperlukan untuk mengantisipasi adanya perluasan kekuasaan dari kerajaan-kerajaan yang sedang berkembang di Jawa bagian Timur melakukan ekspansi ke Jawa bagian Barat. Munculnya kekhawatiran Raja seperti itu, memang terbukti. Beberapa tahun kemudian Kerajaan Demak yang terkenal dengan kekuatan agama Islam-nya, melakukan perluasan kekuasaan dan menyebarkan pengaruhnya ke Jawa bagian Barat.Pemimpin perluasan itu, dipimpinan oleh Falatehan -atau lebih dikenal sebagai Fatahilah, seorang guru agama terkenal dan kharismatik dari Kerajaan Demak, yang memimpin penyerangan, kemudian merebut Banten dan Sunda Kalapa dari tangan Kerajaan Pajajaran --yang ketika itu beribukota di daerah pedalaman, dekat kota Bogor sekarang (Batu Tulis). Fatahillah kemudian mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta -yang berarti "Kemenangan Akhir"-- pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Kekuasaan Fatahillah, kemudian direbut oleh orang-orang Belanda yang tiba di Sunda Kalapa pada tahun 1596.Tahun 1602, Belanda mendirikan Benteng di Teluk Jakarta oleh Van Raay, seorang pegawai VOC, diberi nama "Batavia". Benteng ini menjadi pusat persekutuan dagang VOC untuk wilayah Hindia Timur. Sejak itulah Belanda memulai penjajahannya di seluruh kepulauan Nusantara. Dari Gemeente Sampai Jakaruta Tokubetsu ShiBerdasarkan Ordonansi (Undang-undang) tanggal 18 Maret 1905, Kota Batavia -- pada tanggal 1 April 1905-- ditetapkan sebagai sebuah daerah lokal, yang mempunyai kewenangan mengatur keuangan sendiri, berikut Dewan Daerah yang berdiri sendiri dengan nama: Gemeente Batavia. Ini adalah Gemeente pertama yang dibentuk di Hindia-Belanda. Luasnya ketika itu kurang lebih 125 km per segi, belum termasuk pulau-pulau yang ada di Teluk Batavia (kini Pulau Seribu).Pada tahun 1908, untuk keperluan menjalankan pemerintahan Pamongpraja, Afdeling Stad en Voorsteden van Batavia dibagi menjadi 2 Distrik, yakni Distrik Batavia dan Weltevreden, serta 6 Onderdistrik (Mangga Besar, Penjaringan, Tanjung Priok, Gambir, Senen, Tanah Abang), yang dikepalai oleh para Wedana dan Assisten-Wedana. Dari 6 Onderdistrik dibagi lagi menjadi 27 buah Wijk, dan masing-masing Wijk dibagi lagi dalam Kampung-kampung. Sebelumnya, tahun 1904 ada ketentuan baru bahwa untuk "Gemeente" tertentu oleh Gubernur-Jenderal dapat diangkat seorang Ketua Dewan "Gemeente" tersendiri. Ketua Dewan yang diangkat itu memakai sebutan Burgemeester (Walikota). Burgemeester Batavia pertama-yang diangkat oleh Gubernur-Jenderal pada tahun 1916 adalah Mr, G.J. Bisschop (nama Burgermeester Bisshopplein kemudian diabadikan untuk jalan yang sekarang menjadi JI Taman Suropati).Disamping jabatan Burgemeester, ada pula jabatan "Loco-burgemeester" (Wakil Walikota). Beberapa tokoh bangsa Indonesia yang pernah duduk sebagai anggota Gemeente Batavia, antara lain: Prof. Dr. Sardjito (almarhum), bekas Rektor Universitas Gajah Mada, Prof. Dr. Husein Djajadiningrat (almarhum), Sutan Mohammad (almarhum), Abdulmoeis (almarhum), dan yang paling terkenal adalah Mohammad Husni Thamrin (almarhum). Husni Thamrin -yang asli putra Betawi-- pernah pula menjabat Loco-burgemeester dari Batavia, merangkap anggota Volksraad Kantor Sekretariat Gemeente Batavia hingga tahun 1912 di Binnen Nieuwpoortstraat (Gedung Balaikota pada masa Pemerintahan V.O.C. Tahun 1913, dan Binnen Nieuwpoortstraat lalu pindah ke Tanah Abang Barat No. 35, dan sejak 1919 hingga kini pindah di Koningsplein Zuid 9, yaitu Balaikota sekarang di Jl Merdeka Selatan No. 8-9 Jakarta Pusat).Pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda abad ke-19, Stad (kota) Batavia dengan daerah-daerah sekelilingnya merupakan suatu Karesidenan, yang dipimpin oleh seorang residen. Daerah administratip Karesidenan Batavia ini dibagi pula secara administratip dalam lingkungan-lingkungan yang lebih kecil, yang disebut "afdeling". Sampai permulaan abad ke-20, Karesidenan tersebut terdiri dari lima wilayah, yakni:1. Afdeling "Stad en Voorsteden van Batavia" (Kota dan pinggiran kota Batavia),2. Afdeling Meester Cornelis (sekarang Jatinegara),3. Afdeling Tanggerang,4. Afdeling Buitenzorg (sekarang Bogor)5. Afdeling Krawang.Afdeling "Stad en Voorsteden van Batavia" dikepalai seorang Asisten Residen. Afdeling ini dibagi lagi menjadi 4 distrik, yaitu: Distrik Penjaringan, Pasar Senen, Mangga Besar dan Tanah Abang. Termasuk pula dalam afdeling ini pulau-pulau di Teluk Batavia dan sebelah Utaranya (sekarang Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu).Pada tahun 1922 keluarlah Undang-undang tentang Pembaharuan Pemerintahan. Berdasarkan Undang-undang ini berturut-turut terbitlah Undang-undang (UU) Propinsi (1924), UU Regentschap (Kabupaten, 1924) dan UU Stadsgemeente (Stadsgemeente Ordonnantie, disingkat: S.G.O., 1926).Selanjutnya "Gemeente Batavia" ditetapkan menjadi "Stadsgemeente Batavia", yang kemudian menyelenggarakan Pemerintahan Daerahnya menurut ketentuan-ketentuan dalam S.G.O.S.G.O. menetapkan susunan Pemerintahan suatu Stadsgemeente terdiri dari:1. Raad (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah),2. College van Burgemeester en Wethouders (Dewan Pemerintah Daerah),3. Burgemeester (Walikota); Jakaruta Tokubetsu ShiTanggal 5 Maret 1942 kota Batavia jatuh ke tangan balatentara Jepang. Dan pada tanggal 9 Maret 1942 Pemerintah Hindia-Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Setelah itu, pihak Jepang lalu mengeluarkan Undang-undang No.42 tentang "Perobahan Tata Pemerintahan Daerah". Menurut UU tersebut, Pulau Jawa dibagi dalam satuan-satuan Daerah yang disebut "Syuu" (Karesidenan), "Syuu'" dibagi dalam beberapa "ken" (Kabupaten) dan "Shi" (Stadsgemeente).Kalau dalam Stadsgemeente hanya merupakan Badan yang mengurus rumah tangganya saja, tanpa melaksanakan urusan Pamongpraja, maka menurut UU Tata Pemerintahan Daerah pada masa pemerintahan Jepang, "'Shi" (Stadsgemeente) mengerjakan segala urusan pemerintahan (pamongpraja) dalam lingkungan daerahnya.Urusan Pemerintahan (Pamongpraja) di dalam Stadsgemeente' yang diurus oleh Regent (Bupati), Wedana, Assisten-Wedana, Kepala Kampung atau Wijkmeester, sekarang termasuk dalam kekuasaan "Shichoo" (Walikota). Mereka itu menjadi pegawai Shi dan menjalankan urusan Pemerintahan Shi dibawah perintah dan pimpinan "Shichoo".Selanjutnya menurut Undang-undang tersebut diatas, "Gunseikani' (Kepala Pemerintahan Balatentara Jepang) dapat membentuk "Tokubetsu Shi" (Stadsgemeente luar biasa). Bedanya antara "Tokubetsu Shi" dan "Shi" adalah, bahwa Tokubetsu Shi tidak merupakan Daerah Otonom dibawah Syuu, melainkan langsung dibawah Gunseikan. Dengan demikian, maka kedudukan Pemerintahan kota Jakarta telah meningkat lagi, "Jakaruta Tokubetsu Shi" dipimpin oleh "Tokubetsu Shichoo" dan beberapa orang "Zyoyaku" (Pegawai Tiggi), yang masing-masing diangkat pula oleh Gunseikan.Sampai berakhirnya pendudukan Jepang dalam tahun 1945, kota Jakarta adalah satu-satunya "Tokubetsu Shi" di Indonesia. Jakaruta Tokubetsu Shichoo yang pertama adalah Tsukamoto, dan yang terakhir adalah Hasegawa.Menjadi DCI/DKI JakartaKetika bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, yang ditandai dengan upacara pembacaan teks Proklamasi oleh Suwirjo di Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi) No. 56, istilah "Jakaruta Tokubetsu Shi' diganti dengan "Pemerintahan Nasional Kota Jakarta". Sebagai Walikota pertama yang diangkat oleh Presiden Soekarno pada 29 September 1945 adalah Suwirjo -yang menjadi Ketua Panitia dan pembaca teks Proklamasi tersebut.Tanggal 21 Nopember 1947, sewaktu Walikota Suwirjo bersama beberapa orang pejabat ditangkap dan kemudian diusir dari kota Jakarta oleh Pemerintah NICA (The Netherlands Indies Civil Affairs), maka untuk sementara kekuasaan Pemerintahan Nasional Kota Jakarta fakum. Baru pada tanggal 27 Desember 1949 Pemerintah Kerajaan Belanda mengakui Kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara yang berbentuk Federasi dengan sebutan: Republik Indonesia Serikat.Bagi Stadsgemeente Jakarta tidak ada banyak perubahah. Hanya saja-sesuai dengan ketetapan semula, Majelis Pemerintahan Kota Jakarta dan Badan Pemerintah Harian, pada tanggal 1 Maret 1950 meletakkan jabatannya. Untuk menghindari kekosongan Pemerintahan, pada tanggal 22 Februari 1950 Presiden R.I. memutuskan, bahwa semua kekuasaan dan kewajiban yang menurut Undang-undang seharusnya dilakukan oleh Dewan Perwakilan Kota dan 'College van Burgemeester en Wethouders" dari "Haminte-Kota Jakarta, untuk sementara waktu diselenggarakan oleh Walikota, yang waktu itu masih dijabat oleh Mr. Sastromuljono.Hal ini tidak berlangsung lama. Karena pada akhir bulan Pebruari 1950, dengan persetujuan Kementerian Dalam Negeri R.I.S. dibentuklah "Panitia Tujuh", yang terdiri dari tujuh orang tokoh. Yakni Suwirjo sebagai Ketua, dan sebagai anggota masing-masing: Supranoto, Mr. Sudjono, Mr. Jusuf Wibisono, Sjamsudin Saat, Mr. St. Takdir Ali Sjahbana dan B.A. Motik. Panitia ini bertugas untuk dalam waktu singkat membentuk Majelis baru yang didalamnya duduk wakil-wakil dari aliran-aliran politik dan lainnya yang mencerminkan keadaan yang sebenarnya dari masyarakat Kota Jakarta pada saat itu.Tugas Panitia Tujuh berakhir pada tanggal 9 Maret 1950 dengan membentuk:1. Pemerintahan Kotapraja Jakarta, yang terdiri dari:a. Dewan Perwakilan Kota Sementara.b. Badan Pemerintah Harian,c. Walikota;2. Dewan Perwakilan Rakyat Sementara, yang terdiri dari 25 orang anggota. Walikota menjadi anggota merangkap Ketua. Anggota-anggota diangkat oleh Menteri Dalam Negeri;3. B.P .H. terdiri dari Wali kota sebagai anggota merangkap Ketua, dan 4 orang anggota lainnya, yang dipilih dari anggota-anggota D.P.K. Sementara;Oleh karena diharapkan bahwa pemilihan umum akan dapat segera diadakan, maka D.P. K. Sementara dan B.P.H. tersebut, hanya diberi masa kerja 3 bulan saja, tetapi seiambat-lambatnya pada tanggal 1 Juli 1950 harus sudah meletakkan jabatannya.Keputusan Panitia Tujuh tersebut diatas disahkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri R.I.S. tanggal16 Maret 1950 No. B.J.3/4/13, terhitung mulai tanggal15 Maret 1950.Yang diangkat untuk pertama kali sebagai anggota B.P.H. adalah Supranoto, Sardjono, Tabrani dan De Quelju. Dan pada tanggal 23 Maret 1950 Suwirjo diangkat oleh Presiden R.I.S. sebagai Walikota Jakarta lagi. Mr. Sastromuljono mengadakan timbang-terima kepada Suwirjo pada tanggal 30 Maret 1950. Disusul dengan penyerahan kekuasaan Pemerintahan pada tanggal 31 Maret 1950 dari Gubernur Distrik Federal (Gubernur Batavia en Ommelanden) kepada Walikota Suwirjo, lingkungan wilayah Kotapraja ditambah dengan beberapa wilayah baru, yaitu:1. Pulau Seribu2. Onderdistrik Cengkareng, .3. Sebagian dari Distrik Kebayoran (Onderdistrik Kebonjeruk, Kebayoran ilir dan Kebayoran Udik), dan4. Sebagian dari Distrik Bekasi (Onderdistrik Pulogadung dan sebagian dari Onderdistrik Cilincing).Apabila kota lainnya, yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, sebagian disebut "Kota Besar" dan lainnya "Kota Kecil", maka Kota Jakarta adalah satu-satunya yang dengan resmi disebut: "Kotapraja". Wilayahnya waktu itu terdiri dari: 6 Kawedanan, 20 Kecamatan dan 136 Kelurahan.Untuk menunjang pengelolaan manajemen pemerintah kota Jakarta yang semakin kompleks dan luas, tahun 1955, walikota Sudiro membagi kota Jakarta menjadi tiga wilayah kabupaten administratif. Yakni Jakarta Utara, Jakarta Tengah dan Jakarta Selatan. Masing-masing wilayah dipimpin Wedana Senior dengan pangkat Patih.Setara MenteriSetelah bertahun-tahun menjadi ibukota negara, baru tahun 1964 -melalui UU No 10/1964, status Jakarta menjadi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya (saat itu disebut Daerah Chusus Ibukota/DCI Djakarta Raja).Dengan alasan agar gerak Gubernur DKI Jakarta semakin dinamis, maka keluar lagi Penetapan Presiden tanggal 14 Juli 1965 No 15/1965 yang menyatakan -kedudukan Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta disetarakan dengan Menteri.Sementara itu tahun 1964, Gubernur DKI Jakarta Soemarno sempat melepaskan jabatannya dan digantikan oleh Gubernur Henk Ngantung. Namun, berdasarkan Keppres No.289/1965 yang dikeluarkan 14 Juli 1965, Soemarno diangkat kembali Menteri/Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta merangkap sebagai Menteri Dalam Negeri.Dalam rangka dekonsentrasi, melalui Lembar Daerah No.4 tahun 1966, wilayah DKI Jakarta dibagi menjadi lima wilayah Kota Administratif, Yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Wilayah kota adminsitratif tersebut dipimpin oleh seorang Walikota. Namun batas wewenang dan tanggungjawabnya hanya meliputi teknis administratif, taktis operasional dan koordinasi teritorial. Kini, lima wilayah di DKI tersebut telah meningkat menjadi Kotamadya yang masing-masing dipimpin seorang walikota.Foto :1. Foto lukisan pelabuhan Sunda Kelapa/Batavia (landscape pelabuhan dengan latar belakang Stad Batavia (kota Jakarta Tempo Doeloe)2. Foto museum Fatahila3. Foto Balaikota DKI Jakarta4. Foto DPR tahun 1950-an5. Foto Bung Karno dan walikota Sumarno di Gedung Pola6. Foto Pembangunan dan peresmian Bundaran HI7. Foto jalan raya di Jakarta jaman 1960an8. Foto lalulintas (trem, truk dll) di Jakarta9. Foto Jalan Thamrin tempo doeloe10. Foto kegiatan para mantan Gubernur DKI Jakarta dengan Presiden Soekarno11. Dll (foto-foto tempo doeloe yang berkaitan dengan kegiatan pemerintahan DKI Jakarta).Pointers :Sejarah Jakarta- Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran. - 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari j adi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956). - 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia. - 1 April 1905 berubah nama menjadi Gemeente Batavia.- 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia. - 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakaruta Toko Betsu Shi. - September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta. - 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia. - 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praja Jakarta. - 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Jakartaa Raya. - Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. - 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.Tulisan II Jakarta Tempo Doloe :
"Queen of The East"
&
Weltevreden
Pada pertengahan Abad ke-18, ketika masih bernama Batavia, Jakarta sudah terkenal di dunia sebagai salah satu kota pantai yang menjadi pusat perdagangan di Timur Jauh. Tak mengherankan, ketika itu Jakarta dijuluki sebagai "Queen of The East".Pemerintahan Hindia Belanda sangat mengandalkan Jakarta --sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan-di Timur Jauh. Apalagi ketika tahun 1886 dibangun pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan modern. Ini, membuat peran Jakarta semakin penting dan diperhitungkan, sekaligus menjadi pengimbang dalam perdagangan dunia yang kian dinamis, setelah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869.Sebagai kota yang penting dan diperhitungkan di dunia, pembangunan dan pengembangan Batavia ketika itu tidak lagi hanya sebagai kota dagang dan persinggahan. Tetapi ditujukan menjadi daerah koloni yang nyaman, sesuai selera orang Eropa. Karena itu, pemerintahan Hindia Belanda memindahkan pusat pemerintahan dari Oud Batavia (kota lama) ke Weltevreden, dengan membangun kota baru. Berbagai gaya arsitektur bangunan Eropa yang telah diadaptasikan dengan iklim tropis, dimasukkan dalam penataan dan pelaksanaan kota.Sarana dan prasarana pun di bangun dalam skala sebuah kota besar. Tahun 1873, dibangun jaringan transportasi darat, seperti jalan raya, jalur kereta api dari Batavia (Jakarta) sampai Buitenzorg (kini Bogor). Dilanjutkan dengan pembangunan jaringan-jaringan rel kereta pai ke berbagai kota. Di dalam kota dibangun pula jaringan trem uap.Di pusat pemerintahan Weltevreden, dibangun istana Waterlooplein yang kemudian berfungsi sebagai kantor pemerintah, gedung pengadilan Hoogeerechtshof, gereja Katholik Kathedral, gereja Protestan Willemskerk, sekolah-sekolah, gedung kesenian Schowburg, asrama militer dan rumah sakit.Sejak itu minat orang-orang Eropa ke Batavia kian tinggi. Berdasarkan data Gemeente Register, pada tahun 1924 penduduk Eropa di Batavia berjumlah 27.960 orang. Jumlah ini meningkat menjadi 28.848 orang pada tahun 1925. Dan pada (sensus) 21 Oktober 1926, jumlah bangsa Eropa di Batavia naik menjadi 29.126 jiwa. Sedangkan penduduk Tionghoa mencapai 40 ribu jiwa, Arab 13 ribu jiwa, dan yang terbanyak adalah penduduk asli Indonesia (bumiputra), mencapai 228.000 jiwa.Ketika itu, luas Gemeente Batavia hanya 125 km persegi, tidak termasuk Kepulauan Seribu. Namun, sejak tahun 1917, sejalan dengan perkembangan kota, Gemeente Batavia diperluas. Tahun 1936, ketika Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) digabungkan, luas Stadsgemeente Batavia bertambah menjadi 182 km persegi.Kawasan Menteng.Strategi planologi yang berkembang di Eropa sangat berpengaruh pada strategi pembangunan dan perencanaan Batavia. Pada awal Abad 20, di Eropa sedang populer penataan kota taman (Garden City) dan Ir Thomas Kaarsten adalah salah seorang planolog taman saat itu. Tak heran di Batavia pun muncul peraturan untuk membangun taman-taman kota. Sejak itu, bermunculanlah taman-taman kota. Dan Batavia semakin cantik dengan adanya Wilhelminapark (kini kompleks Masjid Istiqlal), Frombergspark (kini Taman Chairil Anwar), Decapark (taman di depan Istana Merdeka), serta Burgermeester Bisschopplein (kini Taman Surapati).Pengaruh tersebut (penataan kota taman) terlihat saat mengembangkan Menteng. Kawasan yang diambil dari van Muntinghe, pemilik awal lahan di Menteng itu, dibangun menjadi kawasan prestisius. Bahkan proyek ini dikuatkan oleh peraturan BBV 1919. Dibentuk pula badan Bowploeg, sebagai pengarah pembangunan. Pola penataan ruang kota disesuaikan dengan syarat kota modern. Jalan utama Nassau Boulevard (kini Jalan Imam Bonjol) dan Oranye Boulevard (kini Jalan Diponegoro) merupakan arteri, dengan titik pertemuan di Bisschoplein (Taman Surapati) dengan van Heuzt Boulevard.Untuk membangun vila-vila, sengaja diundang arsitek-arsitek Eropa. Di sinilah awal berkembangnya seni arsitektur Indotropis.Menteng yang dulunya terdiri dari Niew Gondangdia dan Menteng, merupakan salah satu contoh perancangan kota modern pertama di Indonesia. Menteng dibangun oleh developer swasta NV de Bouwploeg yang dipimpin arsitek PJS Moojen yang tampaknya juga merencanakan tata letak dasar keseluruhan kawasan tersebut.Sistem Zoning. Strategi peruntukkan lahan kota di Batavia dulu, mengadaptasi Sistem Zoning yang telah dikembangkan di kota-kota Eropa. Tetapi sebenarnya sejak tahun 1930 metoda peruntukkan lahan kota telah diperkenalkan. Misalnya di Utara, Oud Batavia (kota tua) dipertahankan sebagai kawasan perdagangan. Di tengah, yaitu Noordwijk (kini Jalan Juanda), Rijswijk (kini Jalan Veteran), sampai Pasar Baru dijadikan sebagai kawasan campuran antara pertokoan, perkantoran, arena hiburan dan hotel-hotel. Di Selatan, yakni Koningsplein (kini kawasan Monas) sebagai perkantoran dan pemukiman. Setelah abad ke-20 Koningsplein berkembang sebagai pusat pemerintahan.Pada tahun 1818, Daendels-lah yang pertama kali membuka lapangan seluas 1 x 0,85 km ini sebagai tempat latihan militer. Peningkatan peran kawasan ini (sekarang Monas), diawali ketika istana Waterloplein (kini Gedung Departemen Keuangan di Lapangan Banteng) ditetapkan sebagai kantor pemerintahan. Sehingga Gubernur Jendral berdiam di Di Rijswijk (kini Istana Merdeka). Tempat itu kemudian dibangun menjadi istana dengan dua wajah. Yakni menghadap Rijswijk (kini Istana Merdeka) dan menghadap ke Koningsplein (kini Istana Negara).Di sekeliling Koningsplein berdiri pula rumah-rumah mewah kediaman para pembesar pemerintahan Hindia Belanda, disusul bangunan penting, seperti Museum (kini Museum Gajah), kantor Gemeenteraad, Rechtshoogeschool atau Sekoilah Tinggi Hukum (kini Kantor Hankam), kantor Pelayaran Nederland & Rotterdamsche Indische Radio Omroep Maatschappij atau disingkat NIROM (kini RRI), kantor perusahaan minyak Koloniale Petroleum Verkoop Maatschappij (KPM), Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).Gedung-gedung Bersejarah di Jakarta (berupa parade foto)Foto :1. Pasar Senen Tempo Doeloe dan sekarang2. Pasar Tanah Abang Tempo Doloe dan sekarang 3. Lapangan Monas Tempo Doeloe dan sekarang4. Istana Merdeka Tempoe Doeloe dan sekarang5. Markas KKO dan bangunan bersejarah lainnya yang berkaitan dengan tulisan .